Selasa, 27 April 2010

Nisan Lelakiku

ilalang tidak tumbuh di sana,
di tepi horizontal fatamorgana

tetapi dia tumbuh
di atas nisan tanpa nyawa
dengan balutan kain kafan lusuh

di atas nisanku,
bukan di atas nisanmu
pabila semuanya harus gelap
berteman selendang hitam pekat tanpa cahaya

: Lelakiku

Jakarta, 26 Maret 2010

Lelakiku jangan kau berikan kain kafan ini padaku, walau sekedar untuk disimpan sampai lusuh karena aku belum mau mati meski pun kiamat telah bertanda simpang siur

Harmoni Pagi

Pernah dimuat di rubik Oase Kompas.com

Untuk kesekian kali Calia merasakan sakit di jantungnya. Afra tak pernah menemuinya lagi di kafe ini, bahkan Afra tak pernah tampak walau sekedar meminum teh hangat atau memesan sandwich sebagai sarapan pagi.

Bodohnya, seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi, Calia tetap datang lebih pagi ke kantor agar bisa sarapan di kafe ini untuk menunggu Afra. Padahal mereka tidak pernah berjanji untuk sarapan di sini lagi. Dan pagi ini Calia kembali mengeja rasa sakitnya, mencoba menikmatinya tanpa tahu kapan dia bisa berhenti menunggu Afra di kafe ini.

“Mana sini?” Tagih Calia ketika beberapa waktu lalu tanpa sengaja mereka bertemu di suatu tempat. Di mana keduanya selalu berbincang tentang hari kemarin, tentang kegiatan-kegiatan yang sedang mereka jalani masing-masing, tentang keluh kesah, atau tentang perbincangan ringan seperti pembahasan tentang game. Bersama Afra Calia tidak pernah kehilangan topik bahasan.

“Apaan?” Afra mengerutkan kening tidak mengerti.

Jujur Calia suka sekali ekspresinya. Diam-diam ada secuil rasa lega karena kerinduan ini bisa dihapuskan kembali.

“Traktir dong, kamu kan dapet tip kemarin.” Kata Calia mengingatkan. Kemarin Afra tanpa sengaja jadi guide untuk teman bulenya yang liburan ke Jakarta selama seminggu.

“Ehmm nanti ya. Aku masih pegel-pegel nih. Gileee… semingguan istirahat nggak panjang.” Keluh Afra.

Calia tertawa. “Tapi lumayan kan jalan-jalan sama bule. Kayaknya cantik deh tuh bule sampe kamu betah.” Sindir Calia, sebenarnya diam-diam dia cemburu tanpa Afra tahu.

Dia tertawa hambar. “Cantik mah relatif, Neng. Aku malah lebih demen cewek pribumi. Justru jalan sama orang bule kayak jalan sama alien. Merasa asing gitu.” Ungkap Afra.

Calia cuma manggut-manggut. Ada perasaan lega dalam hatinya. Sesaat dia menyadari cinta ini begitu nyata untuk Afra dan Calia tidak tahu persis kapan cinta ini berawal. “Terus kapan kamu traktirin aku?”

“Kapan yaa…?” Afra menerawang, berpikir sejenak, “nantilah.” Selalu saja begitu, Afra tidak memberikan jawaban yang pasti. Mungkin sibuk. Calia berusaha mengerti karena dia adalah orang yang malas menuntut dan Calia cukup tahu diri bahwa di mata Afra dirinya hanyalah seorang adik.

“Tapi kamu janji kan mau ajak aku jalan.” Untuk kesekian kali Calia menagih janjinya akhir tahun lalu yang sampai sekarang belum terlaksana. “Aku pengen ke kota tua sama kamu.” Lirih Calia

“Ehmm nantilah…” Tiba-tiba suaranya kepotong dengan bunyi ponsel yang selalu dia simpan di saku jaketnya. “Sebentar.” Afra mohon diri beberapa langkah dari Calia.

Beberapa saat kemudian, setelah Afra mematikan ponselnya, dia menghampiri Calia lalu “Pulang yuk, udah malam. Lagian aku masih harus ke tempat teman sekarang juga.” Dia menggandeng tangan Calia namun Calia buru-buru menahannya.

“Kamu janji?” Pinta Calia dengan pandangan penuh harap dan entah kenapa detik itu juga rasanya dia ingin menangis. Sungguh dia tidak mengerti, kenapa dia jadi cengeng seperti ini.

“Aku janji.” Afra mengangguk, meyakinkannya.

Calia menyeruput cappucino hangat perlahan sembari meyakinkan diri bahwa suatu saat jika Afra memiliki waktu senggang, dia akan menepati janjinya. Bukankah selama empat tahun dekat dengannya, Afra selalu menepati janjinya. Cappucino hangat itu, dia jadi teringat kalau Afra tidak suka minum kopi atau apapun minuman yang bercampur dengan kopi.

“Udah bosen sarapan di rumah ya, Cal?” Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh Ravi. Teman sekantornya. Ravi mengambil posisi duduk berhadapan dengannya lalu dia menaruh tas kecil dan kamera di atas meja.

Calia cuma tersenyum hambar.

“Padahal tadi aku numpang sarapan di rumah kamu loh. Sekalian jemput kamu, kita kan ada tugas ngeliput bareng, Cal. Eh.. ternyata kamu udah berangkat duluan.”

Calia tidak pernah lupa dengan tugas kantor. Kemarin dia sudah melihat agendanya tapi tetap saja tak ada semangat jika dia belum menemukan Afra. Profesional tanpa semangat. Mungkin kata itu lebih tepat disandang pada dirinya.

“Sori.” Hanya kata itu yang terucap dari bibir Calia.

“Masih nunggu Afra lagi.”

Calia mengangguk pelan. “Alfra kemana, ya?”Gumam Calia.

Ravi mengangkat kedua bahunya. “Neng, ada aku kok malah nyari Afra. Kamu kan tahu dan dunia pun mengakuinya kalo aku lebih tampan dari Afra. Lebih perhatian. Lebih….”

“Cabut yuk.” Potong Calia.

* * *

Gadis itu sudah pergi dan lagi-lagi gadis itu mengawali pagi dengan wajah mendung. Rasanya sakit sekali menatap wajah mendung gadis itu. Harusnya cinta tidak seperti ini, harusnya cinta membuat bahagia orang yang dicintai. Gadis itu membutuhkan dirinya sebagai penghasil senyum tulus di pagi hari.

Gadis itu punya mimpi yang sama seperti dirinya. Mimpi ke kota tua dan menikmati keromantisan Jakarta tempo dulu. Mimpi duduk di pinggiran jalan tol berdua hanya untuk sekedar memandang mobil-mobil ysng berjalan dengan kencang sembari diam atau saling bercerita. Mimpi menyatukan secangkir teh manis hangat dengan secangkir kopi susu setiap pagi. Dan mimpi melewatkan masa tua bersama.

Sayang, kini mimpi-mimpi mereka sudah terlambat untuk disatukan. Terlalu rumit untuk mempersatukan dirinya dengan gadis itu. Menjauh dari gadis itu adalah keputusan yang terbaik. Dia buru-buru membung jauh mimpi-mimpinya.

* * *

Calia memilih lembur malam ini, padahal deadline telah usai dan pekerjaannya sekarang bisa diselesaikan besok. Barusan dia iseng ke ruangan Afra, ternyata tanpa sengaja dia membaca sebuah agenda bahwa Afra malam ini akan lembur. Itulah alasan utamanya mengapa dia belum pulang. Dia ingin ketemu Afra, sekedar menyapanya atau menyediakan mie goreng bersama dengan teh manis hangat sebagai makan malam untuk Afra.

Sudah jam delapan malam, pasti Afra sudah ada di ruangannya. Calia tersenyum senang sambil membawa baki berisi semangkuk mie goreng dan secangkir teh hangat untuk Afra. Namun langkah kakinya mendadak terhenti di depan pintu ruangan tersebut. Ada Ravi rupanya. Mereka sedang berbicara.

“Kenapa kamu terus sembunyi dan menghindar dari Calia?” Tanya Ravi pada Afra. Calia semakin penasaran dan memasang pendengarannya lekat-lekat. Ternyata mereka sedang membicarakan dirinya. Jantung Calia berderbar, “Dia nungguin kamu terus, Fra.” Kata Ravi.

Ada helaan napas berat. “Karena saya tahu dia memiliki harapan sama saya.” Afra menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Seperti menelan suatu persoalan yang berat. Dia menerawang, menatap langit-langit.

“Dia memang berharap sama kamu tapi saya yakin dia hanya butuh dimengerti bukan dijauhi seperti ini. Dia butuh kamu tetap ada sama dia walau pun kamu nggak cinta sama dia.” Ravi berusaha memberi nasehat.

Diam-diam Calia lega. Memang benar apa yang dikatakan Ravi, dia hanya butuh dimengerti.

“Saya mencintainya. Saya sangat mencintainya, Vi!” Ungkapan Afra yang tegas tadi membuat Ravi dan Calia kaget. Ternyata perasaan ini tidak sepihak.

“Karena itu saya menjauh dari dia.” Lirih Afra.

“Kamu pengecut!” Hardik Ravi.

“Kalo saya pengecut saya akan mendekatinya.”

Ravi menatap tajam Afra. “Kalo kamu cinta sama dia. Kamu harus perjuangkan dia. Kamu harus bisa buat dia bahagia kalo nggak itu namanya kamu pengecut!”

“Saya nggak berhak dapetin dia, saya nggak pantes miliki dia.”

“Iyaa..iya.. tapi kenapa?”

Afra memejamkan matanya dan lagi-lagi menghisap rokok dalam-dalam. Calia semakin penasaran menanti jawaban Afra. “Saya ODHA! Saya kena HIV AIDS, Vi.”

Napas Calia mendadak terhenti. Dia merasa sesak mendengar jawaban tadi. Tangannya bergetar memegang baki tapi sekuat tenaga dia berusaha menahan baki itu agar tidak terjatuh. Tatapannya kosong dan tanpa disadari air matanya mengalir deras. Dia terisak.

Beberapa menit lamanya Calia sudah tidak bisa lagi mendengar percakapan Afra dan Ravi dan setelah tenang Calia mendengar Ravi terus-terusan memojokkan Afra sebagai laki-laki bejat, mereka perang mulut. Dia harus segera menengahi perdebatan mereka, dia pun masuk ke dalam.

“Calia?!” Mereka terkejut dengan kehadiran Calia.

* * *

Perempuan bule itu rupanya telah menularkan virus HIV AIDS dalam diri Afra. Calia sudah hapal gaya hidup macam apa yang sekarang dipilih Afra. Tetapi Calia tidak peduli, sekali cinta tetap cinta. Mencintai Afra telah membuat Calia memandang sisi baik dan buruk seorang manusia menjadi seimbang di matanya.

Di ruang kerja Afra kini mereka saling berhadapan. Berdua. Namun hanya ada keheningan semata. Mereka bergelut dengan pikiran dan emosi masing-masing.

“Aku terima kamu apa adanya, Fra.” Lirih Calia memecah keheningan.

“Terima kasih tapi tetap saja saya nggak bisa, Cal.” Tolak Afra.

“Kenapa nggak bisa. Kamu cinta kan sama aku?”

“Justru karena saya cinta sama kamu, saya nggak bisa, Cal. Mengertilah.”

“Jelaskan apa alasannya?”

Afra menghembuskan napasnya dalam-dalam lalu dikeluarkannya perlahan. “Saya ingin kamu bahagia, Cal. Okelah kamu bisa menerima saya apa adanya dan kita bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Tapi mereka? Orang tua kamu, keluarga besar kamu, dan semua orang yang menyayangi kamu dari sebelum saya hadir di kehidupan kamu? Apa mereka mau menerima saya apa adanya, apa mereka sanggup melihat anak perempuan satu-satunya ini harus bersanding dengan ODHA? Saya yakin tidak, Cal. Saya tahu mereka ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Bukan saya orangnya, Cal. Saya nggak bisa bikin kamu bahagia.” Pelan-pelan dan dengan pengertian Afra menjelaskannya.

“Tapi ini menyakitkan buat aku.” Calia mulai terisak.

“Sekarang mungkin sakit, saya pun juga sakit, Cal. Kita sama-sama tersakiti tapi suatu saat kamu akan mengerti. Kalau kamu memang tulus mencintai saya, pergilah. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari saya.”

Calia diam dan berusaha mengeja rasa sakitnya kini. Mimpi mereka adalah menyatukan secangkir kopi dengan secangkit teh manis hangat namun mereka tidak bisa bersatu. Sama seperti kopi dan teh, mereka tidak bisa disatukan dalam resep mana pun.

“Baiklah, aku pergi tapi boleh aku minta satu hal sama kamu?” Tanya Calia.

Afra mengangguk. “Apa?”

“Aku ingin kamu tobat. Hanya itu.”

* * *

Untuk kesekian kalinya Afra melihat informasi pesawat jatuh di berita pagi. Kali ini pesawat jatuh di perairan Majene Sulawesi Barat. Dia meletakkan secangkir teh manis hangat sembari mengeluhkan kondisi penerbangan sekarang. Heran, pesawat kondisinya sudah seperti metromini masih diterbangkan juga. Padahal itu menyangkut ratusan nyawa orang. Di mana hati nurani pemilik maskapai penerbangan itu? Cuma memikirkan untung saja. Hardik Afra kesal.

Tiba-tiba entah mengapa Afra ingin sekali menelepon Ravi untuk menanyakan keberadaan Calia. Aneh memang. Dia langsung mengambil ponsel yang tak jauh letaknya dari cangkir teh manis hangat tadi.

“Vi, Calia lagi ngeliput di mana?”

Setelah mengakhiri percakapan di ponsel dengan Ravi. Afra mentap layar televisi dengan lemas. Hatinya sakit sekali dan matanya nanar, baru kali ini dia menangis. Calia ada di pesawat itu.

Berpisah dengan Calia adalah keputusan yang terbaik tapi dia tidak menyangka kali ini dia benar-benar berpisah dengan Calia. Dia tidak akan pernah bisa melihat Calia lagi.

Tetapi diam-diam dia bersyukur menyandang ODHA. Tuhan akan memperpendek waktunya di dunia untuk bersatu dengan Calia di sana.

* * *

Pada pagi hari di kafe ini, Afra sudah berada di sana dengan ditemani secangkir teh manis hangat dan sandwich. Tidak dia temukan lagi Calia di sana tetapi dia merasa Calia menyertainya. Mungkin itu juga yang membuat Afra betah duduk berlama-lama di kafe ini. Hingga jam menunjukan pukul sembilan, hingga Ravi datang membawa laporan liputan kemarin lalu meminta diri sebentar kepada Ravi sebelum memulai pekerjaannya. Untuk sholat Dhuha.

Pada pagi hari di kafe ini, Afra semakin yakin bahwa mimpinya untuk menyatukan secangkir kopi dengan secangkit teh manis hangat dalam racikan yang sesuai akan segera terwujud. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja.

SELESAI

Tebet-Jakarta
3 Februari 2010
Untuk Pamela Al-Huriyah yang ingin dimengerti

Minggu, 01 November 2009

Ebook Antologi Hujan

Ebook ini kumpulan puisi dan prosa karya aku dan teman-teman sesama komunitas penulis www.kemudian.com. Bertema tentang hujan

ini proyek ebook pertama aku dan teman-teman.

Silahkan di download dan selamat menikmati:
http://www.4shared.com/file/144550660/79615b4d/Antalogi_Hujan.html

Selasa, 13 Oktober 2009

Kepada Sebuah Dedikasi

Jari-jariku mendadak berhenti bergerak dan tidak menari-nari lagi di atas keyboard laptop. Hari ini mungkin aku gagal lagi menuntaskan seribu kata untuk proyek novelku. Aku lelah seharian di depan monitor, berpikir menentukan plot yang sesuai dan menyusun diksi kalimat yang kuat.

Kulirik jam, menunjukan pukul dua malam dan aku menguap. Rasa kantuk kali ini begitu kuat menyerangku. Namun kuurungkan niat untuk segera pergi ke alam mimpi, aku belum sholat malam. Masih ada waktu tiga puluh menit sampai jam setengah tiga. Waktu yang kurasa baik untuk sholat malam.

Sambil mengisi jeda waktu, aku memilih untuk berselancar menjelajahi internet. Seperti biasa aku membuka facebook, ternyata ada empat komen dari Tini atas note-ku yang berisi draft BAB V novelku. Aku tersenyum geli membaca komennya. Dia benar-benar membimbingku, agar novelku terkesan benar-benar real.

Seperti biasa dia mengusulkan konflik-konflik selanjutnya yang akan kutulis dalam bagian novelku berikutnya. Tapi aku sedikit pesimis untuk bisa membuat konflik serumit itu, karena aku paling tidak tega membuat konflik berat atas tulisanku. Kasihan pembaca, tambah banyak pikiran kalau baca tulisan yang berat.

Tak lama, ada pemberitahuan Tini mengomentari pesan dindingku. Ternyata dia sedang online. Aku sudah hafal dengan jadwal dia online. Kondisinya tidak memungkinkan untuk dia menikmati siang terlalu lama. Aku langsung membaca komennya.

“Kamu mesti pergi ke negeri khayalan tepatnya. Jalu, Batpoh, dan Japing tinggal di desa jamur.” Dia menjawab pertanyaanku atas tiga tokoh imajinasinya itu. Sebelumnya aku memang bertanya, di mana ketiga tokoh imajinasinya itu berada karena aku mau kenalan. Ada-ada saja pertanyaanku itu.

“Naik apa ke sananya, Tin? Adakah sketsa barunya?” Balasku kemudian.

Aku bisa memastikan dia sedang menuntaskan hobinya menggambar sketsa kartun ciptaannya. Dia pernah bilang padaku kalau dia suka sekali menggambar dan aku dapat melihat hasil karyanya itu di blognya.

“Naik kereta fantasi yang langsung menuju negeri khayalan. Sketsa udah jadi tinggal pewarnaan. Cuma lagi off pewarnaannya. Lupusnya lagi ngambek, kemarin aku banyak pikiran.” Ada rasa nyeri ketika membaca kalimat terakhir.

Lupusnya kumat, aku tahu penyebabnya. Kepergian temannya yang mendadak kemarin, ternyata benar-benar membuatnya terpukul dan bersedih sampai-sampai ia harus merasakan kembali kekejaman atas kumatnya lupus.

Aku belum pernah bertemu dengannya, kami hanya saling kontak melalui dunia maya. Perkenalan kami terjadi tidak sengaja, saat aku sedang riset penyakit lupus untuk proyek novelku. Aku menemukan namanya pada salah satu buku berjudul “Cinta Membuatku Bangkit Saat Lupus Berbuah Hikmah”. Lalu aku langsung search di google nama lengkapnya itu dan aku berhasil menemukannya.

Ternyata dia orang yang sangat ramah dan terbuka untuk berbagi pengalaman tentang lupus denganku. Dia banyak mengajariku tentang kehidupan dan bagaimana mencintai Allah dengan penuh kepasrahan. Aku pun rajin sholat malam karena pengaruh dari dia walau secara tidak langsung.

Seperti biasa ide lucu menghampiriku, untuk menghiburnya. Minimal dia tersenyum membaca balasan komenku nanti.

“Tau nggak, kalo lupus mulai merajuk, mending ditendang aja ke laut, biar nggak ngambek molo. Kecian kan dunia fantasinya masih berwarna item putih gitu hihhhihi.” Semoga dia tersenyum, harapku.

Hanya ini yang aku bisa berikan supaya dia tidak meringis kesakitan lagi karena kehadiran lupus. Andai tabunganku cukup, aku pasti sudah menemuinya ke Majalengka. Menghiburnya langsung, bahkan kalau bisa, aku ingin merawatnya.

“Kayak tipi jadul aja.” Balasnya singkat.

“Nah makannya tuh, keciankan yang nonton nantinya. Cantik, udah sholat malam blom?” Tanyaku mengingatkannya.

Kadang aku memanggilnya “cantik” karena menurutku dia memang cantik. Apalagi hati dan ketegarannya, sungguh aku kagum padanya. Walau kutahu sebagai manusia biasa dia pun pernah merasa rapuh tapi setidaknya dia tahu bagaimana caranya untuk bangkit kembali.

“Udah tadi mumpung mama bobo, jam 00.30. Nih lagi nunggu subuh. Kamu masih ngerjain novel?” Tanyanya

Aku tidak sempat membalas lagi, karena aku sudah ngantuk dan harus segera melaksanakan sholat malam sebelum tidur

* * *

Aku terbangun jam delapan pagi. Itu pun karena bunyi pesan masuk dari ponsel yang kutaruh di balik bantal. Dari Yosi, kakak angkatku yang bekerja sebagai guru piano. Dia memintaku untuk datang ke coffee shop jam sepuluh nanti. Menemaninya menanti kekosongan jadwal mengajar hari ini, sekalian dia meminta bantuanku untuk mengedit beberapa tulisannya yang dia selesaikan tadi malam.

Permintaan terakhir itu membuatku heran. Dia guru menulisku tapi kenapa selalu meminta bantuanku untuk mengedit. Tulisanku selama ini belum sebagus tulisannya dan ideku pun belum sedasyat idenya dalam menuangkan kata-kata di lembar kertas putih.

Apa tadi? Coffee shop? Selalu saja dia mengajakku ke café mahal. Cuma satu alasanya, karena ada hot spot, numpang internet gratis. Padahal uang di dompetku hanya cukup untuk ongkos saja. Belum ada pemasukan lagi. Mungkin nanti di sana aku tidak memesan apa-apa.

“Kenapa nggak pesen apa-apa?” Tanya Yosi, pandangannya masih tidak lepas dari layar monitor laptop.

Penampilannya kali ini cukup manis dan rapi. Dia menggunakan kemeja warna hijau dengan motif daun-daun dan rok di bawah lutut berwarna coklat, tentu saja tak lupa di wajahnya ada hiasan make up yang tidak terlalu tebal. Feminim sekali. Beda denganku, hanya memakai t-shirt yang ditutupi sweater biru dan tanpa make up kecuali pelembab.

“Udah kenyang.” Jawabku seadanya, menutupi kondisi keuanganku yang sedang tidak bersahabat.

“Ohh… pesen ajah gih. Minuman gitu. Di sini kopinya enak loh, Non.”

“Donatnya juga enak kok, Mbak.” Kataku lalu tersenyum nyengir.

Dia melirikku lalu tertawa renyah. “Kamu ini udah kenyang apa lagi laper sih. Masih sempet-sempetnya ngebayangin donat. Padahal aku kan nggak mesen donat.”

“Iya tapi sandwich.”

Aku hapal, dia selalu memesan makanan dan minuman yang sama di sini. Sesekali dia memesan yang lain, itu pun kalau kupaksa. Bosan aku melihat dia pesan yang itu itu saja. Padahal menurutku sandwich di sini tidak terlalu enak, mungkin saja karena aku tidak begitu suka sandwich.

“Pesen gih, aku yang bayar kok.” Dia mengedipkan mata padaku.

Aku tersenyum senang, akhirnya dia mengerti juga kondisi keuanganku.

“Gimana novel kamu? Udah selesai kan bab limanya?” Tanya dia.

Aku hanya mengangguk karena mulut dan gigi-gigiku sibuk menghancurkan donat untuk segera kutelan.

“Bagaimana bab enam?” Tanya dia lagi. Dasar guru, selalu saja menanyakan tulisanku itu. Tak mengertikah, aku ini sedang menikmati donat tiramitsu favoritku.

Setelah kutelan satu gigitan donat, aku berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaannya. “Kerangka bab enam-ku sudah dihancurkan sama si kupu-kupu cantik itu. Tau nggak, dia penghancur kerangkaku paling gokil.”

“Maksudnya?” Dia menatapku tidak mengerti.

Aku langsung mengambil buku catatan di tas selempangku dan menunjukan beberapa komentar dari Tini yang sudah kurangkum. Dia membacanya.

“Bagus dong.” Komentarnya setelah selesai membaca.

“Apanya yang bagus? Susah, Mbak.” Keluhku.

“Apa sih yang nggak susah bagi calon penulis profesional seperti kamu. Aku yakin kamu bisa kok. Aku pun setuju sekali dengan plot yang diberikan sama Tini ini. Lebih real dan sepertinya memang beginilah yang dia alamin.”

Jika alasannya lebih real. Aku setuju tapi tiba-tiba hatiku merasa sakit. Seperti sebuah dilema dan aku takut sekali. Mungkin aku takut menuliskannya.

“Aku nggak tega nulisnya, Mbak.” Ucapku lirih.

“Kenapa?”

“Aku nggak tega dan sepertinya nggak kuat membayangkan dia meringis kesakitan gara-gara lupus. Dia pasti tersiksa lahir batin.” Kataku sok tahu.

“Nggak segitunya kali, Non. Dia masih punya Yang Di Atas, loh. Kehadiran lupus mungkin membuatnya dekat dengan Allah dan bisa jadi akan membuatnya masuk surga nanti.” Seperti biasa dia menasehatiku dengan bijak,

“Iya juga sih, tapi…”

“Bukankah kamu pengen cepet-cepet novel itu selesai karena dia, maka selesaikanlah seperti apa yang dia usulkan.”

Aku diam sejenak, berusaha meyakinkan diri kalau aku pasti bisa meneruskan novelku itu. “Yeah… aku merasa beruntung mengenalnya. Mungkin kalo aku nggak pernah kenal dia, novel itu nggak akan pernah selesai.”

“Aku pun merasa beruntung mendengar cerita tentang dia dari kamu. Pasti dia istimewa baut kamu.”

“Iya, istimewa menghancurkan kerangka novelku. Menjadi kerangka yang lebih baik tentunya.” Jawabku lalu meneruskan melahap sisa-sisa donat sampai habis.

“Ngomong-ngomong istimewa, sepertinya Luqman masih menempati posisi teratas buat kamu.”

Mendadak aku menghentikan niat untuk menyeruput kopi hangat mendengar kata-kaa dia tadi. Luqman masih menempati posisi teratas. Benarkah? Aku mencoba meraba hatiku lalu tersenyum tulus ke arahnya.

“Posisi teratas adalah keluargaku lalu kalian, sahabat-sahabatku yang selalu menyayangiku. Jadi untuk apa harus menghadirkan Luqman dalam posisi teratas sebagai orang yang istimewa.” Jawabku. Sepertinya itu jawaban yang tepat.

“Jadi Tini dan aku termasuk posisi teratas?”

Aku mengangguk.

“Kalo gitu kusarankan, novel itu kamu dedikasikan untuk dia.”

“Nggak cuma novel tapi cerpen ini juga buat dia kok.”

Dia menatapku penasaran. “Maksudnya?”

“Pembicaraan kita kali ini akan kujadikan cerpen.” Kataku sambil mengedipkan mata.

Dia tertawa. “Dasar penulis.” Ledeknya.

“Kamu juga.” Balasku. “Sini, mana yang perlu kuedit?”

“Nggak usah, kamu cukup menemaniku saja. Soal edit, nanti kukirimkan naskahnya ke emailmu saja.”

Ternyata benar, Yosi dan Tini pantas di posisi itu, posisi yang tidak akan kubiarkan Luqman menempatinya lagi.

Tebet - Jakarta
11:31 PM
11 Oktober 2009

Persembahan untuk Agustini Suciningtias

Menunggu

Masih tentang dia
Masih tentang gerimis masa lampau
Terbangun aku dari tidur semalam
Terpisah dari mimpi tak berujung
Masih menunggumu dan tetap menunggu
Di luar batas kemampuan, kepada alam sadar tak terjangkau

Manunggu hasrat pudar
Menunggu hingga kau bahagia
Saat aku beranjak pergi tanpa pamit
Kini aku hanyalah seorang pemuja rahasia
Tidak tahu kemana arahmu terbang

For: IDOY ‘066’ (Deddy Suryadi)
Cirebon, 17 Oktober 2003

NB: puisi jaman jabot alias jaman SMA nih, jaman-jamannya masih cinta monyet gitu deh. Sekarang lagi kangen sama orang yang jadi inspirasi puisi saya ini. Ada yang tahu kemana yaakk dia tapi bodok amat ah